BRK Syariah Kembangkan UMKM Lewat Program CSR

BRK Syariah Kembangkan UMKM Lewat Program CSR

BINTAN -  Ketekunan dan kesabaran menjadi kunci perjalanan usaha Julianti (51), atau yang akrab disapa Yanti. Berawal dari kondisi ekonomi keluarga yang sempat goyah, perempuan asal Kecamatan Bintan Timur ini perlahan bangkit dan kini menggerakkan usaha bersama yang memberi penghasilan tambahan bagi warga sekitarnya.

Yanti mulai merintis usaha sejak 2016. Saat itu, suaminya baru saja selesai kontrak kerja dan belum memiliki pekerjaan tetap. Dari dapur rumah, Yanti mencoba berbagai usaha kecil demi menopang kebutuhan keluarga dan pendidikan kedua anaknya, yang kini satu telah bekerja dan satu lagi hampir menyelesaikan kuliah.

Usaha pertama yang ia jalani adalah kerajinan tangan. Atas ide anaknya, Yanti membuat sarung pulpen dengan berbagai karakter. Tak berhenti di situ, ia mencoba peruntungan dengan menjual kue olahan ubi menjadi bolu. Setiap hari, proses produksi dilakukan sejak pukul 21.00 malam, lalu hasilnya dititipkan ke warung-warung sekitar. Namun, usaha kue ubi itu hanya bertahan sekitar satu tahun karena keuntungan yang masih sangat terbatas.

Perjalanan Yanti berlanjut ketika ia berinsiatif menggerakan sepuluh ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalnya untuk membuat Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Sebagian besar dari mereka adalah orangtua tunggal yang menjadi penopang hidup keluarga. 

Dari berbagai pilihan produk, Yanti memilih mengembangkan keripik tempe. Prosesnya tidak mudah. Selama hampir satu tahun, ia dan anggota kelompok berulang kali gagal, terutama dalam mendapatkan irisan tempe yang tipis dan konsisten.

“Setelah satu tahun mencoba, barulah kami bisa mengiris tempe dengan baik,” ujar Yanti.

Upaya itu membuahkan hasil. Pada 2022, keripik tempe produksinya mulai masuk pasar dan telah mengantongi logo halal. Pemasaran dilakukan secara bertahap, mulai dari lingkungan terdekat seperti organisasi, PKK, hingga arisan. Yanti juga mengurus izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), sehingga produknya kini bisa dipasarkan di gerai D’Sayur dengan harga Rp14.000 per kemasan untuk rasa original.

Permintaan pasar pun terus meningkat. Bahkan, Yanti pernah menerima pesanan hingga 75 kilogram, meski belum dapat dipenuhi karena keterbatasan stok bahan baku. Menjelang Lebaran, kelompok usahanya telah membuka sistem pre-order sejak jauh hari.

Di sela proses produksi, Yanti memiliki kebiasaan yang tak biasa. “Saya sambil mengiris tempe selalu bershalawat,” katanya. Saat ini, seluruh anggota kelompok juga telah menggunakan sistem pembayaran digital QRIS.

Yanti juga Ketua Kelompok UP2K Seraiwangi di Kecamatan Bintan Timur. Bersama kelompoknya, ia memproduksi beragam makanan olahan, mulai dari aneka kue kering, kerupuk, rengginang, peyek, bolu, donat, keripik pisang pedas manis, kue semprong, hingga produk khas Kepri seperti gonggong rebus dan telur cumi asin.

Dorongan besar datang pada Desember 2025, ketika kelompok UP2K menerima bantuan alat produksi dari program CSR BRK Syariah senilai sekitar Rp42 juta. Bantuan tersebut mencakup oven, alat pengiris tempe yang juga bisa digunakan untuk singkong dan keladi, kukusan besar, penggiling daging, hingga mesin pengadon donat.

“Rasanya seperti dapat harta karun. Senang sekali, bahkan anggota-anggota saya itu sampai mau menangis karena terharu,” tutur Yanti.

Dengan bantuan tersebut, kapasitas produksi meningkat signifikan. Saat ini, produksi keripik tempe mencapai sekitar 2,7 kilogram per hari. Yanti juga telah memiliki dua anggota yang membantu proses produksi, seiring pengembangan usaha kue kering.

“Prinsip saya sejak awal, usaha ini harus bisa membawa orang lain ikut bekerja dan punya penghasilan tambahan untuk keluarganya,” kata Yanti, yang juga aktif dalam kegiatan PKK.

Menurutnya, bantuan dalam bentuk peralatan dari CSR BRK Syariah ini jauh lebih bermanfaat karena benar-benar sesuai kebutuhan kelompok. “Sebelumnya produksi kami terbatas, karena mengerjakannya secara manual. Sekarang jauh meningkat, apalagi saat momen hari besar dan acara besar,” ujarnya.

Bagi Yanti dan anggota UP2K lainnya, bantuan alat produksi tersebut bukan sekadar dukungan usaha, tetapi juga pengakuan atas perjuangan panjang yang dimulai dari dapur rumah, kesabaran, dan keyakinan untuk terus melangkah.

Branch Manager BRK Syariah Bintan Imam Hadi Suryono menegaskan bahwa pemberian alat bantu produksi seperti yang diterima oleh Yanti merupakan bagian dari komitmen jangka panjang BRK Syariah dalam memberdayakan UMKM. Program bantuan alat produksi untuk UMKM ini sudah berjalan sejak 2024, dan dilakukan berkolaborasi erat dengan pemerintah daerah setempat untuk menjangkau pelaku usaha yang benar-benar membutuhkan dukungan non-finansial dan finansial.

“Kami melihat UMKM adalah tulang punggung perekonomian daerah. Melalui CSR dan sinergi dengan pemerintah, kami ingin menguatkan ekosistem usaha masyarakat sehingga bisa terus tumbuh dan berdaya saing,” ujar Imam. 

Program CSR (Corporate Social Responsibility (CSR)  yang dijalankan BRK Syariah bukan hanya sebuah bentuk kepedulian sosial, tetapi juga menjadi instrumen strategis untuk menunjang perekonomian masyarakat.

Berita Lainnya

Index