Dinsos Pekanbaru Jangkau Hampir 15 ODGJ Tiap Bulan, Ada yang Kembali Dilepas Keluarga

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 08:30:00 WIB

PEKANBARU - Dinas Sosial (Dinsos) Kota Pekanbaru, menjangkau sekitar 10 hingga 15 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) setiap bulan. Namun, upaya penanganan tersebut masih menghadapi kendala, terutama ketika keluarga menolak menerima kembali anggota keluarganya setelah menjalani perawatan di rumah sakit.

Kepala Dinsos Kota Pekanbaru, Junaedy mengatakan tidak sedikit ODGJ yang ditemukan telantar di jalanan karena tidak mendapatkan pendampingan dari keluarga. Bahkan, dalam sejumlah kasus, mereka diduga sengaja dibiarkan atau dilepas oleh keluarganya.

"Kami berupaya menelusuri identitas dan keberadaan keluarga ODGJ yang dijangkau. Supaya, ODGJ ini bisa kami kembalikan kepada pihak keluarga," kata Junaedy, Sabtu (17/10/2026).

Namun, upaya tersebut tidak selalu berjalan mulus. Setelah dikembalikan kepada keluarga, sebagian ODGJ kembali ditemukan telantar di jalanan. Kondisi ini membuat petugas Dinsos harus melakukan penanganan berulang kali.

"Kadang sengaja dilepas di jalan-jalan. Kami telusuri dan kami kembalikan ke keluarganya. Kadang oleh keluarganya dilepas lagi. Di situlah kami bersama pihak kepolisian untuk menangani," terang Junaedy.

Junaedy menyebutkan, jumlah ODGJ yang dijangkau Dinsos Pekanbaru dalam sebulan terakhir berkisar 10 hingga 15 orang. Mereka memiliki latar belakang persoalan yang beragam, mulai dari tidak adanya keluarga yang merawat hingga penolakan keluarga terhadap anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa.

Bagi ODGJ yang membutuhkan penanganan medis, Dinsos memfasilitasi perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Tampan. Meski demikian, persoalan tidak serta-merta selesai setelah pasien mendapatkan pengobatan.

"Bagi ODGJ yang membutuhkan penanganan medis, kami memfasilitasi perawatan di RSJ Tampan. Namun, persoalan tidak selalu selesai setelah pasien menjalani pengobatan," jelasnya.

Menurut Junaedy, sebagian keluarga justru enggan menerima kembali anggota keluarganya setelah selesai menjalani perawatan. Padahal, sejumlah pasien membutuhkan pengobatan berkelanjutan, termasuk mengonsumsi obat setiap hari untuk menjaga kondisi kesehatannya.

"ODGJ ini butuh obat yang harus diminum setiap hari. Setelah obat itu habis, keluarganya tidak mau mengurus pengambilan obat ke puskesmas terdekat. Ini yang susah dalam kasus ODGJ ini," ungkapnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam memastikan pengobatan tetap berjalan setelah pasien kembali dari rumah sakit. Tanpa dukungan keluarga dan pendampingan yang memadai, ODGJ berisiko kembali mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari hingga telantar di ruang publik.

Untuk menangani persoalan tersebut, Dinsos Pekanbaru berkoordinasi dengan kepolisian dan Dinas Kesehatan. Kerja sama ini dilakukan untuk menangani ODGJ yang ditemukan di jalanan, menelusuri keberadaan keluarga, serta memastikan mereka mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan.

"Karena itu, kami dengan kepolisian serta Dinas Kesehatan untuk menangani ODGJ yang ditemukan di jalanan. Kami juga berupaya menelusuri keluarga dan memastikan mereka memperoleh penanganan sesuai kebutuhan," papar Junaedy.

Ia berharap keluarga dapat berperan aktif dalam mendampingi anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa. Pendampingan tersebut tidak hanya diperlukan ketika pasien menjalani perawatan di rumah sakit, tetapi juga setelah kembali ke lingkungan keluarga.

Keluarga diharapkan turut memastikan pengobatan berjalan rutin, termasuk mengurus kebutuhan obat melalui puskesmas terdekat sesuai kebutuhan pasien.

Menurutnya, penanganan ODGJ tidak cukup hanya dengan menjangkau mereka dari jalanan dan membawa mereka untuk mendapatkan perawatan medis. Dukungan keluarga serta kesinambungan layanan kesehatan menjadi bagian penting agar mereka tidak kembali telantar.

"Dukungan keluarga serta kesinambungan layanan kesehatan juga diperlukan. Agar, mereka tidak kembali telantar," pungkasnya.

Terkini